Lompat ke isi utama

Berita

Perkuat Demokrasi, Bawaslu Ajak Pemilih Pemula Jadi Pemilih Cerdas dan Kritis

Bawaslu Jepara selenggarakan Podcast Bawaslu Menyapa dengan menghadirkan Ketua IPPNU Kabupaten Jepara, Mahya dengan Moderator Anik Sholikhah staf Bawaslu Jepara membahas pentingnya membangun pemilih muda yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Bawaslu Jepara selenggarakan Podcast Bawaslu Menyapa dengan menghadirkan Ketua IPPNU Kabupaten Jepara, Mahya dengan Moderator Anik Sholikhah staf Bawaslu Jepara membahas pentingnya membangun pemilih muda yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Bawaslu Jepara — Pemilih pemula memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas demokrasi di masa depan. Melihat pentingnya peran tersebut, Bawaslu Jepara menekankan perlunya penguatan literasi kepemiluan bagi generasi muda agar mampu memahami hak dan kewajibannya sebagai pemilih, menyaring informasi di tengah maraknya hoaks, serta berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan Pemilu. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Bawaslu Menyapa yang menghadirkan Ketua IPPNU Kabupaten Jepara, Mahya, untuk membahas pentingnya membangun pemilih muda yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Dalam program Bawaslu Menyapa, Bawaslu mengajak generasi muda memahami bahwa Pemilu bukan sekadar kegiatan memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS), tetapi juga bagian dari proses menentukan arah pembangunan bangsa. Literasi kepemiluan dinilai penting, terutama bagi pemilih pemula yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya.

Ketua IPPNU Kabupaten Jepara, Mahya, menyampaikan bahwa pemahaman generasi muda terhadap demokrasi dan Pemilu saat ini mulai mengalami peningkatan. Hal tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi digital yang membuat informasi mengenai Pemilu lebih mudah diakses melalui berbagai platform media sosial.

Namun, kemudahan akses informasi juga menghadirkan tantangan baru. Menurut Mahya, pemilih pemula perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan informasi palsu agar tidak mudah terpengaruh oleh hoaks maupun penggiringan opini.

“Informasi kepemiluan harus disebarluaskan melalui media yang dekat dengan generasi muda, tetapi tetap perlu dipastikan berasal dari sumber yang tepat,” ujarnya.

Ia menilai Bawaslu dan lembaga penyelenggara Pemilu memiliki peran penting dalam menghadirkan edukasi kepemiluan dengan cara yang menarik dan mudah diterima oleh generasi muda. Penyampaian informasi melalui media sosial, konten kreatif, maupun diskusi seperti Bawaslu Menyapa dinilai menjadi salah satu cara efektif menjangkau pemilih pemula.

Baca Juga : Bawaslu Jepara Ikuti Literasi Pojok Pengawasan Vol. 17, Perkuat Pengawasan Daftar Pemilih Berkelanjutan untuk Bersihkan Ghost Voters

Mahya menjelaskan, salah satu tantangan terbesar pemilih pemula adalah banyaknya informasi yang beredar di ruang digital. Tidak semua informasi yang viral dapat dipercaya, sehingga masyarakat perlu melakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum membagikan suatu informasi.

Ia mengingatkan agar pemilih muda mencari informasi dari sumber resmi, seperti KPU dan Bawaslu, serta tidak terburu-buru mempercayai konten yang belum terbukti kebenarannya.

“Jangan langsung membagikan informasi sebelum memastikan apakah berita tersebut benar atau hanya hoaks,” katanya.

Selain memahami informasi Pemilu, pemilih pemula juga perlu mempersiapkan diri agar menjadi pemilih yang bertanggung jawab. Mahya menyebut terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan, seperti mengenali identitas calon, memahami visi dan misi, melihat rekam jejak calon, serta memastikan calon tidak melakukan praktik politik uang. Menurutnya, pilihan politik tidak seharusnya didasarkan pada popularitas semata, melainkan berdasarkan pertimbangan terhadap kapasitas, program, dan rekam jejak calon.

“Suara kita sangat berarti. Karena itu, jangan memilih hanya karena ikut-ikutan atau karena pengaruh orang lain,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut, Mahya juga menyoroti masih adanya sikap apatis dari sebagian generasi muda terhadap politik dan Pemilu. Ia menilai kondisi tersebut perlu diatasi dengan melibatkan anak muda secara langsung dalam kegiatan demokrasi. Keterlibatan generasi muda, seperti menjadi relawan demokrasi, anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), maupun pengawas Pemilu, dapat memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya menjaga proses demokrasi.

“Ketika generasi muda dilibatkan, mereka akan memahami bahwa demokrasi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya datang ke TPS saat Pemilu,” jelasnya.

Ia juga mengajak pemilih pemula, khususnya pelajar di Kabupaten Jepara, agar tidak golput dan menggunakan hak pilih dengan penuh kesadaran. Menurutnya, satu suara yang diberikan dapat memberikan dampak besar terhadap masa depan bangsa. Melalui penguatan literasi kepemiluan, Bawaslu Jepara berharap generasi muda tidak hanya menjadi peserta dalam Pemilu, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.

“Kenali calonnya, pahami visi misinya, jangan mudah terprovokasi, dan gunakan hak pilih dengan bertanggung jawab,” pesannya.

Penulis: Misbakhus Sholihin
Foto: Nurul Khotimatul K.
Editor: Wahidatun Khoirunnisa